MEDAN, sumut1.com — Penangkapan tiga pria terkait dugaan peredaran narkotika jenis sabu di kawasan Jermal, Desa Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan, terus memunculkan polemik di tengah masyarakat.
Dalam operasi yang disebut dilakukan pada Senin (27/4/2026) sore, tiga pria masing-masing dikenal dengan panggilan Paisal, Wak Leng, dan satu orang lainnya yang belum teridentifikasi, diamankan di lokasi yang diduga sebagai Tempat Pembelian Sabu (TPS) di Jalan Jermal 11.
Dari informasi yang dihimpun di lapangan, ketiganya diduga berperan sebagai pelayan transaksi sabu. Saat diamankan, mereka disebut menyebut nama GS yang diduga sebagai sosok pengendali jaringan tersebut.
Pasca penangkapan itu, GS dikabarkan menghilang dan diduga melarikan diri. Warga menyebut, keberadaan GS hingga kini tidak diketahui dan diduga tengah bersembunyi.
Namun, yang lebih menjadi sorotan publik adalah dugaan adanya keterlibatan oknum aparat dalam proses penangkapan tersebut.
Sejumlah sumber di lapangan menyebutkan, terdapat empat orang yang diduga merupakan oknum petugas dari BNNP Sumatera Utara yang terlibat langsung dalam kegiatan penindakan tersebut. Ironisnya, hingga saat ini identitas keempat oknum tersebut tidak diketahui secara pasti.
Lebih jauh, beredar dugaan kuat di tengah masyarakat bahwa kegiatan penangkapan tersebut dilakukan tanpa perintah resmi dari pimpinan BNNP Sumatera Utara. Informasi ini masih bersifat dugaan dan belum mendapat konfirmasi dari pihak berwenang.
Kondisi ini memicu keresahan warga. Minimnya informasi resmi dikhawatirkan membuka ruang bagi berkembangnya berbagai spekulasi liar, termasuk munculnya istilah “operasi senyap” atau yang dikenal di masyarakat sebagai “operasi kalong”.
“Kalau tidak ada penjelasan resmi, masyarakat bisa menafsirkan macam-macam. Sekarang sudah mulai muncul isu operasi kalong,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Masyarakat pun mendesak pihak BNNP Sumatera Utara untuk segera memberikan klarifikasi resmi terkait kegiatan penangkapan tersebut, termasuk menjelaskan status dan identitas petugas yang terlibat, agar tidak menimbulkan kegaduhan berkepanjangan.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pihak BNNP Sumatera Utara melalui Humas yang akrab disapa Mas Arie belum membuahkan hasil. Pesan yang dikirimkan melalui WhatsApp hingga saat ini belum mendapat tanggapan.
Hingga berita ini diterbitkan, seluruh informasi terkait dugaan keterlibatan oknum maupun mekanisme penindakan tersebut masih menunggu penjelasan resmi dari pihak BNNP Sumatera Utara.
(tim/red)









